Tidak banyak yang mengenal SMPN Satu Atap Sarolangun ini dan namanya pun hampir tidak terdengar seperti sekolah sekolah lain yang ada di Kabupaten Sarolangun. Sekolah ini merupakan sekolan menengah Pertama Negeri yang ber alamatkan di Jl. Pendidikan Bukit Bulan Kecamatan Limun Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi. Sekolah ini terletak jauh dari pusat kota. Akses kesana bisa di tempuh dengan perjalanan darat. Perjalanan kesana menggunakan transportasi mobil . Adapun jarak sekolah ini dari kota sekitar 50 Km. Medan yang berbukit bukit cukup membuat nyali seorang pendidik menjadi ciut untuk balik ke tempat tinggal dan menguras emosi untuk melawan rasa malas . Akan tetapi demi tugas Negara ya tetap di jalani saja oleh mereka.
Sekolah ini di pimpin oleh PLT Papak Fadil Azim,S. Pd dengan dibersamai oleh team beliau yang bernama Meri Fitriana,SS sebagai Waka Kurikulum dan pengampu mata pelajaran Bahasa Inggris, Andi Sasmita,SE sebagai guru pengampu PKN, dan Pjok sekaligus sebagai koordinator Imtaq, Ferawati,S.Pd.I sebagai guru pengampu Ilmu Pengetahuan Sosial dan pengampu mata pelajaran matematika , Resnitawati,S.Pd.I sebagai guru pengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia, pengampu mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi pekerti serta include pengampu mata pelajaran Prakarya, selanjutnya Elmayainti.S.Pd.I sebagai guru pengampu mata pelajaran pendidikan agama dan Budi Pekerti serta pengampu ilmu Pengetahuan Social. Mereka memang team yang luar biasa demi mendidik anak Bangsa
Minat penduduk untuk memasukkan anak mereka ke sekolah ini tidak begitu significant. Jumlah murid pada SMPN satu Atap Sarolangun ini berjumlah 13 murid. Murid kelas IX berjumlah tiga orang. Murid kelas VIII berjumlah dua orang dan murid kelas VII berjumlah delapan orang. Untuk mengakomodir choice, voice ownership murid diadakan lah ekskul Pramuka. Pramuka inilah yang mengajarkan mereka bertahan dan menjadi pribadi yang tangguh meski dengan teman-teman yang sedikit.
Perjalanan pendidik disini sangat luar biasa, bisa dikatakan agak mirip dengan kisah laskar pelangi bedanya adalah jumlah siswa, gedung sekolahnya dan letak sekolahnya. Guru yang mendidik dan mendampingi murid disini meningalkan keluarga dan menyewa rumah di rumah warga di dekat sekolah. Guru disekolah ini hanya dua orang yang PNS selebihnya honorer murni. Bayangkan guru honorer bisa bertahan dengan kondisi sekolah yang jauh dari pusat kota yang gaji semuanya kita tahu berapa dan bisa untuk apa saja, bahkan langsung habis saat itu juga.
Sebagai guru yang mendidik di daerah kota/ dekat dengan pusat pemerintahan patut bersyukur dan memiliki spirit yang lebih dibandingkan mereka yang berada di daerah dengan keterbatasan yang ada. Sebagai guru yang mengajar perlu belajar dan mengambil iktibar dari kawan –kawan yang mengajar di daerah terpencil dan murid yang seadanya. Yuk mari menjadi guru penuh spirit Lillah yang sangat hebat dibandingkan rekan kita di sana. Semangat edukasi untuk anak Negeri dibulan Suci ini adalah nilai ibadah yang tinggi dan semakin mengajar dengan sepenuh hati dan berdedikasi tiada henti meski mendidik di pelosok Negeri.

Kok jadi ke Jambi mbak Nur...
ReplyDelete